Bullying, Monster Menakutkan di Lingkungan Sekolah Siap Meledak Bagai Bom Waktu
Ironisnya, banyak kasus bullying di lingkungan sekolah justru tenggelam dalam diam. Guru sibuk dengan kurikulum, orang tua percaya anaknya baik-baik saja, dan teman sebaya memilih bungkam karena takut jadi korban berikutnya. Ketika ejekan, pengucilan, atau kekerasan fisik dianggap “bumbu kehidupan sekolah,” kita sedang mewariskan budaya kekerasan yang terlegitimasi.
Apakah kita sadar bahwa setiap tawa atas ejekan, setiap pembiaran atas kekerasan verbal, adalah bentuk partisipasi dalam kejahatan yang merusak masa depan anak-anak kita?
Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika dan bahasa. Ia adalah laboratorium sosial tempat anak-anak belajar tentang empati, keadilan, dan keberanian. Maka, membiarkan bullying berarti gagal mendidik generasi yang sehat secara emosional dan sosial.
Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi bullying. Perlu ada sistem pelaporan yang aman, pendidikan karakter yang konsisten, dan keterlibatan aktif semua pihak—guru, orang tua, siswa, dan pemerintah. Karena setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan tumbuh tanpa rasa takut. Jika sekolah adalah rumah kedua, maka mari kita pastikan rumah itu tidak menyimpan luka.
Tinjauan Teoritis
Menurut Biomeke S dan Herzig B (2009) menjelaskan bahwa sekolah adalah lembaga kemasyarakatan yang membesarkan, mendidik, dan membentuk anak-anak kita selama jangka waktu yang lama dalam hidup mereka. Seiring berjalannya waktu sekolah sebagai lembaga wajib mengalami perkembangan, transformasi dan perubahan cepat yang dirasakan dan dinilai secara berbeda oleh siswa, guru dan orang tua. Saat ini sekolah dianggap sebagai “ruang pembelajaran dan pengembangan pribadi, transfer dan pelestarian pengetahuan” dan “lembaga pendidikan, lingkungan terlindung, ruang hidup, ranah pengalaman, kewenangan sosialisasi, seleksi instrumen dan lembaga reproduksi masyarakat”
Lantas bagaimana jadinya sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman dan kondusif untuk perkembangan anak ternyata masih menyimpan potensi masalah yang satu waktu bisa meledak bagai bom waktu? Bagaimana seorang bisa menjadi korban bahkan menjadi pelaku Bullying ?
Prof.Dr.Dan Olweus menyampaikan bawha seorang siswa diintimidasi atau menjadi korban ketika dia terekspos, berulang kali dan berulang-ulang waktu, hingga tindakan negatif dari satu atau lebih siswa. Itu adalah tindakan negatif ketika seseorang dengan sengaja menimbulkan, atau mencoba menimbulkan, cedera atau ketidaknyamanan pada orang lain orang, melalui kontak fisik, melalui kata-kata atau dengan cara lain.
Secara umum bullying dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu secara verbal, fisik, dan sosial. Bullying verbal dapat berupa cacian, makian, ejekan, sindiran dan kata-kata yang menyakitkan hati korban. Bullying fisik adalah kekerasan berupa pukulan, tendangan, gigitan, cubitan, dorongan dan segala tindakan yang menimbulkan korban jiwa, luka maupun rasa sakit. Untuk bullying sosial adalah tindakan pengucilan korban agar dipisahkan dari suatu kelompok, tidak dilibatkan dalam suatu kelompok.
Harapan Bersama
Upaya untuk mencegah terjadinya bullying khususnya di sekolah menjadi tugas besar dan tanggung jawab bersama baik sekolah, orang tua dan lingkungan. Lewat kerjasama yang efektif, semua pihak bisa mendeteksi sekaligus mengatasi permasalah sosial dan personal anak-anak kita. Mari wujudkan sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua pihak. Bersama kita pasti bisa. (red01)

Posting Komentar untuk "Bullying, Monster Menakutkan di Lingkungan Sekolah Siap Meledak Bagai Bom Waktu"
Posting Komentar